Prinsip-Prinsip Pemasaran Destinasi Pariwisata

Prinsip-Prinsip Pemasaran Destinasi Pariwisata

Prinsip-prinsip pemasaran destinasi pariwisata merupakan konsep dasar yang bersifat filosofis mengenai inti dari pemasaran itu sendiri. Menurut Morrison (2013) terdapat empat prinsip yang dapat dijalankan oleh seluruh pengelola destinasi pariwisata dan telah menjadi kunci sukses dari pemasar-pemasar destinasi pariwisata pada saat ini. Prinsip-prinsip pemasaran destinasi pariwisata tersebut adalah mengenai konsep pemasaran & orientasi pelanggan, daur hidup destinasi, segmentasi pasar dan bauran pemasaran.

Konsep pemasaran dan orientasi pelanggan (marketing concept & customer orientation)

Prinsip-prinsip pemasaran destinasi pariwisata yang pertama adalah terus-menerus berupaya dalam memuaskan pelanggan. Menurut Craven (2009), upaya memuaskan pelanggan dapat dilakukan dengan cara berorientasi kepada pelanggan. Berorientasi kepada pelanggan disini mengandung pengertian bahwa segala aktivitas pemasaran harus disesuaikan dengan kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan. Memuaskan pelanggan adalah aktivitas yang sangat penting bagi pengelola destinasi, karena menurut banyak penelitian, pengunjung yang puas akan cenderung loyal. Keuntungan yang diperoleh dari loyalitas pelanggan adalah mereka akan melakukan kunjungan ulang (revisit), meningkatkan tensi kunjungannya atau retention (menigkatkan pengeluaran, lama tinggal dll.), serta merekomendasikan kepada orang disekitarnya (referral). Sebaliknya jika pelanggan tidak puas, yang paling berbahaya adalah jika ketidakpuasannya itu disebarluaskan ke khalayak ramai yang mengakibatkan citra destinasi menjadi negatif, apalagi pada era masa sekarang dengan mudahnya akan menyebar melalui sosial media.

 

Prinsip-prinsip Pemasaran Destinasi Pariwisata: Roda Pemasaran

Prinsip-prinsip Pemasaran Destinasi Pariwisata
Sumber: Modifikasi dari Morrison (2013)

Daur hidup destinasi (destination life cycle)

Daur hidup produk destinasi merupakan prinsip pemasaran yang juga menjadi pijakan dasar bagi pengelola destinasi. Informasi dari daur hidup tersebut dapat dijadikan acuan dalam berbagai strategi dan kebijakan terkait pemasaran. Konsep daur hidup produk dikemukakan oleh Butler (1980) yang disebut TALC (Tourism Area Life Cycle). Daur hidup produk terdiri dari tujuh tahap yaitu tahap exploration, involvement, development, consolidation, stagnation, decline dan rejuvenation. Pada setiap tahap tersebut membutuhkan strategi dan taktik tersendiri seperti dalam gambar berikut:

Prinsip-prinsip Pemasaran Destinasi Pariwisata: The tourism area life cycle (TALC)

Prinsip-prinsip Pemasaran Destinasi Pariwisata
Sumber: Butler, R. W. (1980) dalam Morrison (2013)
  1. Tahap Exploration-ekplorasi: pada tahap ini destinasi baru dikenal oleh sedikit orang, sehingga pengunjung yang datang juga baru sedikit. infrastruktur masih sangat minimal, sehingga relatif sulit untuk dikunjungi.
  2. Tahap Involvment-keterlibatan: pada tahap ini keterlibatan dari beberapa pihak mulai muncul, beberapa investor lokal mulai berinvestasi sehingga pengunjung mulai banyak berdatangan.
  3. Tahap Development-pembangunan: pada tahap ini pembangunan dengan perencanaan yang baik mulai dilakukan. Promosi mulai dikampanyekan sehingga kedatangan pengunjung mulai ada peningkatan. Fasilitas-fasilitas mulai dibangun beserta penambahan beberapa daya tarik yang lainnya. Industri mulai terbangun dan investor dari luar mulai berdatangan.
  4. Tahap Consolidation-konsolidasi: pada tahap ini pertumbuhan kunjungan mulai melambat, sehingga diperlukan penambahan pasar baru dan fokus terhadap isu-isu musiman.
  5. Tahap Stagnation-stagnasi: tahap ini merupakan tahap kedewasaan, atau puncak dari kunjungan, dengan ciri-ciri seperti daya dukung mulai terbatas, pengembalian investasi sudah terlewati dan terdapat kecenderungan kunjungan mulai memperlihatkan penurunan.
  6. Tahap Decline-penurunan: tahap ini merupakan tahap dimana destinasi mulai jenuh, pengunjung mulai bosan sehingga kunjungan mulai memperlihatkan penurunan yang signifikan. Tahap ini biasanya memiliki ciri-ciri yaitu penurunan kualitas fasilitas-fasilitas fisik dan infrastruktur.
  7. Tahap Rejuvenation-peremajaan: jika setelah tahap stagnasi, destinasi melakukan inovasi-inovasi, seperti melakukan pengembangan-pengembangan terhadap produk dan pasarnya, maka tahap stagnasi tidak akan diikuti oleh tahap decline, sehingga destinasi akan kembali remaja dan kunjungan dapat terpelihara kembali.

Segmentasi pasar (market segmentation)

Pemasaran destinasi pariwisata akan lebih optimal jika destinasi secara fokus mengejar kelompok pasar yang spesifik dibandingkan dengan menyasar pasar yang secara luas (mass market), karena destinasi tidak akan mungkin bisa melayani semua pasar secara luas. Hal tersebut dikarenakan oleh beberapa hal seperti:

  1. Sifat dari sumber daya yang selalu terbatas;
  2. Semakin luas atau semakin umum pasar yang disasar akan semakin tidak personal, dan tidak tajam;
  3. Kompetisi akan semakin ketat, jika memasuki pasar yang tidak tersegmentasi.

Proses segmentasi pasar akan membantu pemasar dalam memfokuskan terhadap segmen yang memiliki daya tarik tinggi sehingga dapat diselaraskan dengan kekuatan internal. Segmentasi pasar disini bukan hanya untuk memilah-milah pelanggan saja, tetapi termasuk arena bersaing (market place), dan para pesaing (competitor).

Bauran pemasaran (marketing mix)

Alat pemasaran yang sangat teruji dilapangan adalah bauran pemasaran yang dipopulerkan oleh Jerome McCarthy (1968) dengan 4 P’s-nya (Product, Price, Place, Promotion). Sebelumnya, kata bauran pemasaran pertamakali digunakan oleh Neil Borden (1950) yang terinspirasi dari gagasan James Cullington yaitu bahwa seorang eksekutif bisnis berperan sebagai ‘mixer of ingredients‘ (https://id.wikipedia.org/wiki/Bauran_pemasaran), di akses pada tanggal 20 September 2016). Sampai saat ini bauran pemasaran dari Jerome McCarthy masih digunakan terutama untuk produk manufaktur. Dan sebagai kumpulan bahan baku, bauran pemasaran layaknya suatu resep makanan yang perlu diracik untuk menghasilkan makanan yang sesuai dengan pesanan. Atas dasar hal tersebut, maka bauran pemasaran destinasi pariwisata merupakan suatu racikan yang berisi manuver-manuver taktis untuk menghasilkan penawaran yang memiliki nilai dimata pelanggan.

Pada masa selanjutnya, seiring dengan berkembangnya industri jasa (services), Booms & Bitner (1981) mengembangkan bauran pemasaran untuk jasa dari 4 P’s menjadi 7 P’s (Product, Price, Place, Promotion, People, Physical Evidence dan Proces). Dalam konteks destinasi pariwisata, Morrison (2013) mengemukakan tambahan 4 P’s McCarty menjadi 8 P’s (Product, Price, Place Promotion, Packaging, Programming, Parthnership dan People).

Bauran pemasaran tersebut di atas merupakan pemahaman dari sudut pandang produsen dan lebih cocok menggunakan pendekatan pemasaran yang product centric. Dalam sudut pandang konsumen, bauran pemasaran 4 P’s sekarang ini telah diterjemahkan ke dalam 4 C’s (Customer Solution, Communication, Convenience dan Customer Cost).

Wallahu A’lam Bishawab.

Referensi:

  1. Morrison, Alastair M. (2013). Marketing and Managing Tourism Destinations. New York: Routledge
  2. Cravens, David W. & Nigel Piercy (2009). Strategic marketing 9th ed. Boston: McGraw-Hill Irwin
  3. Booms, B. & Bitner, M. J. (1981). Marketing Strategies and Organizational Structures for Service Firms. Marketing of Services, James H. Donnelly and William R. George, eds. Chicago: American Marketing Association
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Bauran_pemasaran

One Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d bloggers like this: