Strategi Komunikasi Pemasaran Kawasan Konservasi

Strategi Komunikasi Pemasaran Kawasan Konservasi

Halo sobat sekalian, kali ini saya ingin berbagi mengenai bagaimana cara mengkomunikasikan Kawasan Konservasi. Tulisan ini saya buat karena saya masih melihat sebagian besar pengelola Kawasan Konservasi masih menjalankan strategi dan taktik pemasaran secara sporadis dan kelihatannya belum menerapkan prinsip-prinsip pemasaran di Kawasan Konservasi.  Oleh karena itu, tulisan kali ini akan berisi mengenai definisi Kawasan Konservasi, prinsip-prinsip pemasaran Kawasan Konservasi serta Langkah-langkah Strategi Komunikasi Pemasaran Kawasan Konservasi itu sendiri.

Pengertian Kawasan Konservasi

Oke, pertama-tama kita definisikan terlebih dahulu apa sih yang disebut dengan Kawasan Konservasi. Dalam Booklet mengenai Informasi Dasar Kawasan Konservasi yang dikeluarkan oleh Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang dimaksud dengan Kawasan Konservasi adalah suatu wilayah yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan yang dilindungi agar kondisinya tetap lestari. Dijadikan sebagai kawasan konservasi karena memiliki keunikan dan kekhasan serta peranan yg penting bagi lingkungan di sekitarnya. Contoh kawasan konservasi adalah kawasan-kawasan yg ditetapkan sebagai kawasan pelestarian alam dan kawasan suaka alam. Dalam Booklet tersebut terlihat bahwa Kawasan Konservasi memiliki 3 (tiga) jenis yaitu:

  • Kawasan Pelestarian Alam (Taman Nasional, Taman Wisata Alam, Taman Hutan Raya)
  • Kawasan Suaka Alam (Cagar Alam, Suaka Margasatwa)
  • Taman Buru

Dari pengertian mengenai Kawasan Konservasi di atas terlihat bahwa tujuan dari ditetapkannya suatu Kawasan menjadi Kawasan Konservasi adalah agar Kawasan tersebut dapat terjaga kelestariannya atau berkelanjutan (sustainable). Oleh karena itu, dalam melakukan komunikasi pemasaran pada Kawasan Konservasi tidak boleh keluar dari prinsip pembangunan yang berkelanjutan.

Prinsip-prinsip Pemasaran Kawasan Konservasi

Dalam Buku Panduan Strategi Komunikasi untuk Konservasi Alam, para pengelola Kawasan Konservasi dalam mengelola komunikasi pemasaran kawasannya harus memegang prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Menggunakan pendekatan pemasaran yang terintegrasi (integrated driven); Pendekatan Komunikasi Pemasaran secara umum telah memperlihatkan kecenderungan yang berorientasi ke pasar, atau lebih dikenal dengan pendekatan market driven. Pendekatan tersebut dirasa kurang cocok dengan karakteristik Kawasan Konservasi, oleh karena itu perlu dipadukan dengan pendekatan produk (product driven). Sehinggan dengan prinsip memadukan dua pendekatan tersebut, pengelola Kawasan Konservasi akan selalu dapat memahami kebutuhan, keinginan dan harapan pengunjung dengan tetap memperhatikan kelestarian Kawasannya.
  2. Memperhatikan daur hidup produk; Daur hidup produk juga merupakan pijakan dasar bagi pengelola Kawasan Konservasi. Informasi dari daur hidup tersebut dapat dijadikan acuan dalam berbagai kegiatan komunikasi pemasaran. Konsep daur hidup produk dikemukakan oleh Butler (1980) yang disebut dengan TALC (Tourism Area Life Cycle). Daur hidup produk terdiri dari tujuh tahap yaitu tahap exploration, involvement, development, consolidation, stagnation, decline dan rejuvenation.
  3. Memperhatikan daya dukung kawasan; Pada umumnya, pemasaran cenderung hanya untuk mendatangkan, menjaga dan melipatgandakan jumlah pengunjung. Di satu sisi, kawasan konservasi memiliki daya dukung (carrying capacity) yang terbatas. Oleh karena itu, kegiatan komunikasi pemasaran di kawasan konservasi harus memperhatikan daya dukung kawasan agar tidak terjadi kelebihan permintaan yang akan mengakibatkan kelebihan kunjungan. Untuk itu, pengelola kawasan perlu memperhatikan konsep demarketing (usaha menghambat atau menurunkan kunjungan) dalam menjaga daya dukung kawasannya.

Langkah-Langkah Strategi Komunikasi Pemasaran Kawasan Konservasi

Dalam Buku Panduan Strategi Komunikasi untuk Konservasi Alam, terdapat 7 (tujuh) langkah dalam melakukan pengelolaan komunikasi pemasaran pada Kawasan konservasi.

Berikut penjelasan dari ketujuh langkah tersebut.

1. Evaluasi Kondisi Program Komunikasi Pemasaran Saat ini

Evaluasi kondisi komunikasi pemasaran saat ini dilakukan agar komunikasi pemasaran yang akan dirumuskan tetap selaras dengan strategi pemasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Karena komunikasi pemasaran pada dasarnya adalah taktik dalam mendukung strategi pemasaran yang terdiri dari target pengunjung yang telah dibidik, positioning dan branding yang ingin dibangun.  

Evaluasi kondisi komunikasi saat ini juga ditujukan untuk melihat respons atau tanggapan dari para pemangku kepentingan terkait dengan program-program komunikasi yang ada selama ini. Evaluasi ini akan digunakan untuk penyusunan tujuan komunikasi pada tahap berikutnya. Evaluasi digunakan untuk mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki oleh kawasan konservasi, mempersiapkan cara yang tepat, agar tujuan komunikasi selanjutnya dapat berjalan lebih efektif dan efisien

2. Perumusan Tujuan Komunikasi Pemasaran

Tahap selanjutnya adalah merumuskan tujuan komunikasi pemasaran. Tujuan komunikasi pemasaran biasanya terdiri dari 3 (tiga) hal yaitu menginformasikan (to inform), mempengaruhi (to persuade) dan mengingatkan (to remind). Pengelola dapat menetapkan salah satu, salah dua atau ketiga-tiganya dalam menetapkan tujuan komunikasi pemasaran yang tentunya harus berdasarkan kondisi program komunikasi pemasaran yang telah dianalisis pada tahap sebelumnya.

3. Penetapan Target Khalayak (Audiens)

Setelah itu target khalayak harus ditetapkan Target. Khalayak merupakan pihak-pihak yang dibidik untuk menerima pesan dari pengelola kawasan. Pihak-pihak tersebut biasanya merupakan para pemangku kepentingan kawasan konservasi. Oleh karena itu para pengelola kawasan perlu mengidentifikasi terlebih dahulu siapa saja para pemangku kepentingan yang terkait dengan Kawasan Konservasi.

4. Perumusan Disain Komunikasi Pemasaran

Rumusan disain komunikasi pada dasarnya adalah rumusan dari pesan yang ingin disampaikan kepada para target khalayak yang telah ditetapkan. Disain komunikasi ini terdiri dari Pesan Kunci, Isi Pesan, Struktur Pesan, dan Format Pesan.

5. Memilih Bauran Komunikasi Pemasaran

Langkah selanjutnya adalah memilih bauran komunikasi pemasaran. Bauran tersebut adalah alat (tools) dalam menyampaikan pesan kepada target khalayak. Dalam hal ini terdapat beberapa alat dalam bauran komunikasi pemasaran yang dapat dikelompokan ke dalam 3 (tiga) kelompok besar yaitu Above the Line (ATL), Below the Line (BTL) dan Accros/Through the Line (TTL).

6. Penyusunan Program Komunikasi Pemasaran

Setelah bauran komunikasi pemasaran dipilih beserta komponennya, selanjutnya adalah membuat program komunikasi pemasaran sebagai rencana aksi untuk memudahkan penerapan rencana yang telah disusun sebelumnya. Rencana aksi tersebut setidaknya terdiri dari apa saja strategi komunikasi pemasaran yang telah ditetapkan sebelumnya (kondisi, tujuan komunikasi, target khalayak, pesan, pilihan bauran komunikasi pemasaran), bagaimana penjadwalannya, siapa penanggung jawabnya dan bagaimana perencanaan anggarannya.

7. Pemantauan & Evaluasi Komunikasi Pemasaran

Tahap terakhir adalah menyusun rencana evaluasi dan pengendalian dari program yang telah ditetapkan tersebut. Salah satu alat yang dapat digunakan dalam hal ini yaitu penetapan Key Performance Indicators (KPI) pada setiap program komunikasi pemasaran yang telah ditetapkan.  

Nah itulah yang dapat saya share kali ini, untuk lebih jelasnya silahkan download Buku Panduan Strategi Komunikasi untuk Konservasi Alam yang telah disusun oleh KLHK di sini. Asalamualaikum Wr. Wb. Sampai ketemu lagi di tulisan-tulisan saya selanjutnya.

Referensi

Hidayah, Nurdin. (2019). Pemasaran Destinasi Pariwisata. Bandung: Alfabeta.

Karyanto, D. W; Ridwan; Susanti; Hesti Rahayu & Nurdin Hidayah. (2019). Buku Panduan Strategi Komunikasi untuk Kawasan Konservasi. Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Booklet Informasi Dasar Kawasan Konservasi. (2018). Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d bloggers like this: