Destinasi Digital Wajib Tahu Kedahsyatan Dari Smart Tourism Destination Tools

Published by NURDIN HIDAYAH on

smart tourism destination tools

Dalam tulisan saya yang berjudul “Sekilas Mengenai Smart Destinations”, saya telah menjelaskan mengenai bagaimana latar belakang, definisi, dan karakteristik dari Smart Tourism Destinations itu sendiri. Nah, sekarang saya coba untuk menulis lebih lanjut mengenai apa saja yang sebenarnya dapat memudahkan wisatawan dalam melakukan perjalanan wisatanya, Kemudahan tersebut di sisi destinasi yaitu fasilitas yang harus disediakan untuk mengakomodir kebutuhan wisatawan sehingga akan mendapatkan pengalaman yang lebih bernilai. Fasilitas tersebut dalam bahasa smart destinations disebut sebagai smart tourism destination tools.

Pada dasarnya Smart Tourism Destination Tools merupakan perpaduan antara konsep “smart tourism destinations” dan “tools”. Smart tourism destinations sendiri sudah saya dijelaskan pada tulisan saya di sini, sementara itu tools disini merupakan alat bantu untuk memudahkan wisatawan dalam melakukan kegiatan pariwisata, baik sebelum mendatangi destinasi (pre), di destinasi (during) dan setelah dari destinasi (post). Seperti yang diungkapkan oleh Anacleto et al., 2014 dalam Smith (2015), bahwa wisatawan akan dihadapkan oleh permasalahan setiap kali mereka berkunjung ke suatu tempat yang baru, seperti dalam memutuskan kemana untuk pergi, atau apa yang harus dilakukan oleh mereka dalam suatu keterbatasan ruang dan waktu.

Dalam kegiatan pariwisata yang konvensional, wisatawan biasanya memerlukan informasi dari pemandu wisata atau informasi yang termuat dalam peta atau buku panduan wisata. Bagi banyak orang hal tersebut menjadi sesuatu yang ribet. Tetapi jika terdapat suatu alat (tools) yang mudah digunakan untuk membantu merencanakan perjalanan, menemukan preferensi, mendapatkan pengetahuan, budgeting, atau membantu menggunakan waktu yang lebih efektif dan efisien, mungkin perjalanan wisatawan akan lebih bernilai dan gak ribet lagi. Oleh karena itu dengan didukung oleh perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, Smart Tourism Destination Tools sekarang sudah menjadi augmented product bagi destinasi dan mungkin sebentar lagi akan menjadi sesuatu yang generic, atau sesuatu yang sudah seharusnya difasilitasi oleh destinasi.

Definisi Smart Tourism Destination Tools

Definisi smart tourism destination tools  menurut Smith (2015) adalah sebagai berikut:

“A combination of mobile hardware, software and networks that enable an interactivity between tourist, stakeholders and physical objects. This communication allows tourists access to personalized services providing in some cases real-time information. The tracking and collection of data via the systems enables stakeholders to manage destinations effectively and efficiently when making decisions”

Definisi tersebut mengandung pengertian bahwa smart tourism destination tools adalah suatu kombinasi dari perangkat keras, perangkat lunak seluler yang dapat digunakan untuk aktivitas interaksi antara wisatawan, pemangku kepentingan dan objek fisik secara interaktif. Dalam komunikasi ini wisatawan dapat dimungkinkan mengakses pelayanan secara pribadi secara real-time. Pelacakan dan pengumpulan data melalui sistem memungkinkan para pemangku kepentingan untuk mengelola destinasi secara efektif dan efisien saat membuat keputusan.

Dengan Smart Tourism Destination Tools memungkinkan wisatawan untuk menggunakan ponsel mereka dalam menjelajahi atau meng-eksplorasi destinasi. Pengguna yang dibantu oleh teknologi Smart Tourism Destination Tools dapat menavigasi perjalanan mereka tanpa menggunakan peta atau buku panduan wisata, yaitu tren yang sudah ada sebelumnya di Tokyo menurut Yeoman & Yu, (2012).

Kegiatan pariwisata yang seperti itu dapat meninggalkan sebagian besar data digital yang dikenal dengan istilah Big Data (SOCAP International, 2013 sebagaimana dikutip dalam Buhalis & Amaranggana, 2013 serta Smith, 2015). Melalui pengelolaan Big Data, organisasi pariwisata berada dalam posisi mengekstraksi wawasan berharga dari informasi yang dapat memberikan dimensi baru terhadap pengalaman pelanggan dan meningkatkan cara destinasi berinteraksi dengan pelanggannya,

Buhalis & Amaranggana, (2013) menegaskan bahwa destinasi yang menguasai bentuk teknologi ini akan mendapatkan keuntungan kompetitif dibandingkan dengan pesaingnya. Pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras dalam komputasi seluler telah mendukung sejumlah besar aplikasi, terutama penandaan visual objek fisik dan Near Field Communication (NFC), yang telah berkontribusi dan melengkapi pengembangan IoT (Internet of Things) (Borrego-Jaraba, Luque Ruiz, & Gómez-Nieto, 2011 dalam Smith, 2015).

Menurut Yeoman & Yu (2012), manfaat dari smart tourism destination tools bagi wisatawan adalah dapat menyediakan informasi mengenai produk pariwisata melalui berbagai platform teknologi, dengan membawa “kenyamanan antarmuka (interface) yang ramah pengguna, informasi terkini serta keterjangkauan.

Bentuk Smart Tourism Destination Tools

Smith (2015) membagi smart tourism destination tools ke dalam tiga bentuk yaitu Applications (Apps), Augmented Reality (AR) dan Near Field Communication (NFC).

Applications (Apps)

“App” adalah singkatan dari “application”, sedangkan “Apps” adalah singkatan dari “applications”. Dalam bahasa Indonesia artinya aplikasi, yang merupakan hal yang sama seperti program perangkat lunak. Sementara sebuah aplikasi dapat merujuk kepada sebuah program untuk setiap platform perangkat keras, nama ini sering digunakan untuk menggambarkan program untuk perangkat mobile, seperti smartphone dan tablet. Istilah “app” dipopulerkan oleh Apple ketika perusahaan menciptakan “App Store” pada tahun 2008, setahun setelah iPhone pertama dirilis. iPhone dan App Store tumbuh dengan popularitas yang sangat pesat, istilah “app” menjadi cara standar untuk merujuk aplikasi mobile. Program untuk perangkat Android dan Windows Phone sekarang disebut “App” juga. (https://www.informasi-internet.com/2016/11/app.html, diakses pada 24 Juli 2018)

smart tourism destination tools

Applications

Menurut Smith (2015), Apps terbagi menjadi 3 (tiga) jenis berdasarkan On dan Offline-nya yaitu “Native Apps”, “Mobile Web Apps” dan “Hybrid Apps.

  • Native apps: aktif di perangkat fisik dan diakses melalui ikon di layar awal pada perangkat. Aplikasi ini dipasang melalui toko aplikasi seperti Google Play atau Apple App Store dan baru-baru ini Amazon. Mereka dikembangkan untuk masing-masing platform (iOS, Android, dll.), dan dapat memanfaatkan semua fitur perangkat (kamera, GPS, akselerometer, kompas, daftar kontak, dll.). Mereka memiliki potensi untuk menggabungkan sistem gerak-gerik (gesture system) dan selanjutnya didefinisikan sebagai app gesture. Pada akhirnya, Native Apps dapat menggunakan sistem notifikasi pada perangkat dan yang terpenting mereka dapat bekerja secara offline (Budiu, 2013 dalam Smith, 2015). Native Apps dapat memberikan referensi untuk wisatawan, yang sangat bermanfaat dalam menjaga biaya pada saat roaming secara rendah serta dapat mengakses informasi tanpa akses internet (Smith, 2015).
  • Web apps: bukan aplikasi asli, tetapi merupakan situs web yang dalam banyak hal terlihat dan terasa seperti aplikasi asli. Web apps dijalankan oleh browser dan biasanya ditulis dalam HTML5. Pertama, pengguna mengaksesnya karena mereka akan mengakses halaman web apa saja, mereka menavigasi ke URL khusus dan kemudian memiliki opsi untuk “menginstal” mereka di layar awal perangkat mereka dengan membuat bookmark ke halaman itu (https://www.nngroup.com/articles/mobile-native-apps/, diakses pada 24 Juli 2018). Web apps dapat menggunakan fitur GPS dan fitur tap-to-call (ketuk-untuk-menelepon), namun, banyak fitur asli (sebagaimana disebutkan di atas: pemberitahuan, berjalan di latar belakang, informasi akselerometer, gerakan rumit) masih tetap tidak dapat diakses di browser. jika fitur asli penting untuk fungsi APP maka ada kebutuhan yang lebih besar untuk membuat native apps (Budiu, 2013 dalam Smith, 2015).
  • Hybrid apps: sebagian web apps dan sebagian native apps. Mirip dengan native apps, aplikasi ini terdapat di toko aplikasi (apps stores) dan dapat memanfaatkan fitur perangkat. Padahal, seperti aplikasi web, mereka mengandalkan HTML yang dirender dengan browser yang disematkan dalam aplikasi. Seringkali, perusahaan membuat hybrid apps untuk halaman web yang ada. Dengan cara ini, perusahaan hybrid apps berharap dapat memajangkan aplikasinya di apps stores, tanpa menghabiskan banyak upaya dan biaya untuk mengembangkan aplikasi baru yang berbeda. Hybrid apps populer karena memungkinkan pengembangan lintas platform dan dengan demikian mengurangi biaya pengembangan: yaitu komponen kode HTML yang sama dapat digunakan kembali pada sistem operasi seluler yang berbeda (Budiu, 2013 dalam Smith, 2015).

Augmented Reality (AR)

Menurut Smith (2015), AR adalah bentuk aplikasi, yang penggunaannya sangat bergantung pada kebutuhan perangkat keras tambahan, dalam hal ini kamera inbuilt dari perangkat mobile. Sehingga Smart Tourism Tools ini dapat memberikan informasi melalui bentuk pencitraan (imagery). AR adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata. Tidak seperti realitas maya (virtual reality) yang sepenuhnya menggantikan kenyataan, AR hanya sekadar menambahkan atau melengkapi kenyataan saja (Vallino, James R., 1998).

smart tourism destination tools

Augmented Reality

Menurut Sundareswaran et al. (2003), AR dapat diaplikasikan untuk semua indra, termasuk pendengaran, sentuhan, dan penciuman. Selain digunakan dalam bidang-bidang seperti kesehatanmiliter, industri manufaktur, realitas tertambah juga telah diaplikasikan dalam perangkat-perangkat yang digunakan orang banyak, seperti pada telepon genggam (https://id.wikipedia.org/wiki/Realitas_tertambah#cite_note-4, diakses pada 24 Juli 2015).

AR dapat memungkinkan destinasi pariwisata untuk menciptakan pengalaman unik bagi wisatawan, terutama ketika diterapkan pada Warisan Budaya. Lebih jauh lagi, ada kepentingan untuk penciptaan bersama dan memungkinkan wisatawan untuk menjadi bagian dari produk mereka (Smith, 2015).

Near Field Communication (NFC)

Menurut Smith (2015) NFC adalah protokol komunikasi radio nirkabel jarak dekat yang dapat berfungsi antara tag/chip yang mentransmisikan data yang disimpan di dalamnya ke perangkat elektronik yang membaca dan menerima data. Selanjutnya, NFC dapat digunakan untuk berkomunikasi di antara perangkat yang berbeda tanpa perlu konfigurasi, misalnya, antara dua smartphone/tablet yang berbeda yang diletakan (di tap) secara berdekatan untuk mengirim sejumlah kecil data seperti gambar atau berbagi informasi seperti detail kontak, tanpa perlu otorisasi/kata sandi.

smart tourism destination tools

Near Field Communication

NFC dan Bluetooth adalah sesuatu yang berbeda, perbedaan NFC dan Bluetooth terletak pada jangkauan berkomunikasi dan mekanisme komunikasi. NFC hanya bisa berkomunikasi pada jarak yang lebih pendek daripada Bluetooth, yaitu pada kisaran kurang dari 10 cm saja atau dengan cara menyinggungkan dua jenis perangkat, sedangkan Bluetooth bisa tetap berfungsi dalam jarak sampai 10m. Kelebihan NFC dari Bluetooth adalah kemampuannya berkomunikasi tanpa proses pairing seperti halnya Bluetooth. Selain itu NFC menguras energi baterai lebih sedikit daripada Bluetooth. Hal yang paling mengesankan adalah NFC memungkinkan smartphoneberfungsi sebagai alat pembayaran.

Meer (2015) dalam Smith (2015) menyatakan bahwa NFC dapat digunakan “di tempat-tempat wisata seperti museum di mana wisatawan dapat memindai titik informasi di lukisan / patung / artefak sejarah dan kemudian telepon mereka memungkinkannya untuk menyediakan komunikasi suara, misalnya terjemahan dalam bahasa asli mereka misalnya”. Thalen (2015) dalam Smith (2015) menyatakan bahwa NFC juga dapat dimanfaatkan untuk menyederhanakan pengalaman di hotel dalam menggunakan perangkat NFC pribadi untuk masuk ke kamar, pintu keamanan dan menawarkan informasi tentang atraksi lokal.

Referensi:

  1. Buhalis, D., & Amaranggana, A. (2014). Smart tourism destinations. Dublin: IFITT.
  2. Smith, Richard. (2015). Smart Tourism: Linking technology with the touristic resources of city destination. NHTV University of Applied Sciences, Breda
  3. Vallino. (1998). Interactive Augmented Reality,” Ph.D. Thesis, Department of Computer Science, University of Rochester, Rochester, NY
  4. Yeoman, I., & Yu, R. L. (2012). 2050 – Tomorrow’s Tourism: Edinburgh 2050: Technological Revolution. Aspects of Tourism. Buffalo: Channel View Publications.
  5. https://id.wikipedia.org/wiki/Realitas_tertambah#cite_note-4
  6. https://www.nngroup.com/articles/mobile-native-apps/
  7. https://www.informasi-internet.com/2016/11/app.html,


4 Comments

Rusmin Nuryadin · 22/09/2018 at 10:14

goog for referensi tourism knowlodge

M.iwan · 24/09/2018 at 09:39

Persoalannya apakah bisa dioperasikan pada daerah2 destinasi yg masih banyak blank spotnya?

    NURDIN HIDAYAH · 24/09/2018 at 14:11

    Terima kasih atas komentarnya, menurut saya pemasaran itu berawal dari target market, klo memang suatu destinasi menargetkan pengunjung yang membutuhkan kemudahan secara digital, maka selayaknya destinasi bekerjasama dengan stakeholdernya untuk menyediakan infrastrukturnya baik sofware maupun hardwarenya. Tetapi jika memang destinasi tidak dapat menyediakan infrastrukturnya seperti jangkauan signal dll, ya jangan menargetkan pengunjung yang seperti itu. Cuman permasalahannya, tren perilaku pengunjung sudah mengarah ke arah digital, oleh karena itu destinasi yang terkena blankspot, ya perlu melakukan terobosan, seperti bekerjasama dengan pihak operator agar signal coverage nya di tambah, atau menyediakan wifi gratis, dll. Salam

Leave a Reply

%d bloggers like this: