Bagaimana Destinasi Pariwisata Digital Agar Tetap Kompetitif

Published by NURDIN HIDAYAH on

Wisatawan Zaman Now

Halowww pembaca sekalian, kali ini saya akan membahas mengenai apa saja yang perlu diperhatikan dalam membangun usaha pariwisata atau destinasi wisata dimasa kini atau bisa kita sebut sebagai destinasi zaman now. Sebelum ke inti dari pembahasan kali ini, saya akan menguraikan terlebih dahulu bagaimana fenomena perilaku wisatawan pada saat ini.

Rhenald Kasali dalam artikelnya yang dimuat dalam Kompas.Com menyebutkan bahwa ekonomi sekarang ini telah berubah menjadi Esteem Economy dari leisure economy pada era sebelumnya. Perubahan tersebut berimbas terhadap perubahan perilaku berwisata, dari hanya menikmati waktu senggang dengan kumpul-kumpul bersama teman atau keluarga yang biasa disebut dengan wisata sun, sand, and sea, berubah menjadi mencari pengalaman (experiences) dengan unsur ingin mendapatkan pengakuan karena pernah mengunjungi tempat-tempat yang lagi hits pada masanya.

Perubahan perilaku berwisata tersebut menurut saya disebabkan oleh kebanyakan manusia sekarang ini yang sudah addicted terhadap gadget terutama smarphone yang sudah menjadi kebutuhan pokok diluar sandang, pangan dan papan. Coba saja bagaimana perasaan anda jika sehari saja tidak menggunakan smartphone karena hilang atau rusak, mungkin akan merasa seperti menjalani empty space yang sangat berat. Atau coba kita lihat bagaimana orang-orang berjalan (atau mungkin anda sendiri) tidak lagi melihat jalan dengan benar, tetapi sibuk memainkan smartphone-nya, bahkan sampai ada yang menabrak dinding atau masuk lobang, hahaha sungguh ironis kan? tetapi itulah kenyatannya.

Keunikan lain dari Esteem Economy dalam dunia pariwisata yaitu bagaimana orang-orang tidak lagi mencemaskan pengorbanan dalam perjalanan mereka. Lihat saja orang-orang rela bermacet-macet ria dari Jakarta ke Kawasan Lembang, atau bahkan merelakan nyawanya seperti pendaki Gunung Merapi yang hanya untuk mengabadikan, update status atau live story di medsosnya atau hanya untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka sudah mencoba atau pernah kesana.

destinasi zaman now

Ilustrasi: Addicted to the Smartphone

Dari hal tersebut juga memperlihatkan bahwa kecemasan juga sudah berubah, dari mencemaskan pengorbanan untuk mengunjungi destinasi wisata menjadi mencemaskan kalau medsosnya tidak dikasih hati atau jempol oleh follower atau fans-nya. Sungguh perilaku yang unik kan, tapi lagi-lagi itulah kenyataannya dari fenomena tersebut.

Perilaku addicted terhadap smartphone sebenarnya juga ada pemicunya, dan menurut saya pemicunya adalah sosial media dan aplikasi permainan. Tetapi jika kita merujuk kepada Erik Qualman (2009) dalam bukunya mengenai Socialnomic, menilai bahwa perubahan perilaku manusia tersebut diakibatkan oleh sosial media yang sudah merubah tatanan kehidupan manusia, dari mulai bagaimana mereka tinggal sampai bagaimana mereka melakukan kegiatan bisnisnya.

Perilaku tersebut sebenarnya sangat kentara dialami oleh generasi Y dan Z yang tenar selalu disebut sebagai generasi zaman now atau milenial, bahkan ada yang menyebut sebagai generasi rumah kaca (glass house), karena privasi pada generasi ini sudah sangat mudah untuk diakses oleh orang lain melalui sosmednya. Hal lain yang terlihat dari generasi ini yaitu sangat menikmati berbagai kemudahan yang difasilitasi oleh perangkat-perangkat digital, sehingga Bill Gates mengatakan bahwa era milenial ini sangat dihiasi oleh digital lifestyle atau gaya hidup yang dimudahkan oleh teknologi digital.

destinasi zaman now

Ilustrasi: Digital Lifestyle

Destinasi Zaman Now

Untuk para pelaku pemasaran usaha pariwisata atau pengelola destinasi wisata, apa yang harus dilakukan dalam menangkap fenomena tersebut? Menurut saya terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar usaha pariwisata atau destinasi zaman now tetap kompetitif yaitu:

  • Usaha pariwisata/destinasi zaman now harus mengedepankan prinsip digital friendly, yaitu harus dapat memfasilitasi pengunjungnya dalam melakukan look, book, buy dan act dengan media digital. Berarti pengelola harus benar-benar memiliki media digital seperti website, aplikasi mobile, sistem transaksi online, dll. Kementerian pariwisata sebenarnya sudah memfasilitas melaui pengembangan ITX (Indonesia Tourism Exchange) untuk memudahkan buyers dan sellers melakukan transaksi. Oleh karena itu, jika belum memiliki platform exchange system, bergabunglah dengan ITX.
  • Key success factor usaha pariwisata/destinasi zaman now yang salable adalah dengan menyediakan spot-spot dekomentasi yang Instagramable, yang dapat diabadikan oleh pengunjung baik dari depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah. Seperti yang telah saya uraikan sebelumnya bahwa orang-orang sekarang ini sangat haus akan pengakuan, oleh karena itu pengelola harus memfasilitasi mereka dengan spot-spot foto yang memukau dan kekinian, serta jangan lupa untuk menciptakan spot yang dapat dijadikan landmark, yang dapat menjadi kembagaan mereka untuk membagikannya memalui medsos mereka.
  • Seperti yang telah saya uraikan sebelumnya, wisatawan zaman now memiliki gaya hidup digital (digital lifestyle), dan perangkat digital mereka harus didukung oleh beberapa fasilitas seperti tempat charging baterai, steker listrik (colokan), wifi, dll. Hal tersebut mungkin dipandang sepele, tetapi kenyataannya masih banyak tempat wisata yang masih belum aware. Padahal pada saat ini hal tersebut sudah menjadi hal yang generik, yang sudah seharusnya tersedia atau bukan lagi menjadi augmented product seperti zaman old.
  • Usaha pariwisata/destinasi zaman now harus terus kreatif dan inovatif dengan selalu menampilkan augmented product yang baru, yang unik, agar selalu hits dan tidak membosankan. Kalau menurut Menteri Pariwisata, Arief Yahya usaha tersebut patokannya adalah bagaimana usaha pariwisata/destinasi zaman now agar selalu menciptakan creativity value dan commercial value, atau dengan kata lain bahwa selain harus menciptakan keunikan juga harus memiliki nilai jual.
  • Sebagai faktor pengungkit, undanglah komunitas travel blogger, vlogger, selebgram atau sejenisnya dan bekerjasamalah dengan Genpi (Gerakan Pesona Indonesia) sebagai media buzz atau word of mouth, karena generasi zaman now sudah relatif menghiraukan promosi konvensional, tetapi mereka sangat mempercai peer recomendation, seperti komentar atau review dalam medsos.
  • Generasi rumah kaca akan mempermudah pengelola usaha pariwisata/destinasi zaman now dalam mengenali kebutuhan, keinginan dan harapan mereka dengan cara melakukan netnografi. Oleh sebab itu pengelola harus memiliki data base akun sosmed dari para pengunjungnya. Sementara itu data base tersebut juga dapat dijadikan sebagai alat untuk menjalin hubungan baik dengan mereka (relationship marketing).

Okay deh…. segitu dulu yang dapat saya share kali ini, semoga dapat bermanfaat bagi insan pariwisata semua. Silahkan untuk memberi komentar dan saran positif di kotak yang telah tersedia, ingat jangan kotak yang lain ya, apalagi kotak sumbangan masjid….hehehe…..Salam Pariwisata


2 Comments

Torang Nasution · 15/07/2018 at 10:28

Terima kasih..tulisannya di atas, jika diibaratkan destinasi sebuah rumah yg akan mengundang org bertamu..peran digital sangat penting utk.datang ke rumah tsb, tapi konten isi didalam rumah mulai dari.teras belakang sampai teras depan itulah yg menjadikan problematika destinasi kita, seperti problem stakeholders engagement..(destination governance), visitor managementnya, dll, memerlukan suatu.kebijakan yg smart.., kasus toba kapal tenggelam menjadi kasus persoalan stakeholders yg harus dioptimalkan lagi. Demikian

    NURDIN HIDAYAH · 21/09/2018 at 09:15

    Betul sekali Pak, seberapa jagonya kita bisa mendatangkan tamu, kalau konten (produk) nya tidak sesuai harapan akan menjadi gap dan menjadi bumerang dikemudian hari karena tamu yang datang akan kecewa dan akhirnya citra menjadi tidak bagus. Btw, terimakasih banyak pak Torang sudah mampir ke Blog saya

Leave a Reply

%d bloggers like this: