Sistem Kepariwisataan (Tourism System)

Sistem Kepariwisataan (Tourism System)

Kepariwisataan (tourism) merupakan suatu konsep yang kompleks dan membutuhkan keterlibatan antar sektor atau lingkungan usaha yang lain (seperti: agro, pertambangan, manufaktur, konstruksi, perdagangan, keuangan, jasa umum, dll.) serta keterlibatan antar dimensi (seperti: spasial, bisnis, akademis, sosial budaya, ekonomi dll.). Bermacam keterlibatan tersebut dapat dilihat dari sudut pandang sistem, yang biasa disebut dengan sistem kepariwisataan (tourism system). Sistem kepariwisatan merupakan suatu sistem yang bersifat terbuka (open system) karena sifat atau karakteristiknya yang multi sektor dan multi dimensi. Berikut adalah gambar dari sistem kepariwisataan yang dikemukaan oleh Leiper yang dimodifikasi oleh Morrison dkk dalam Hanbook Pengantar Pengelolaan Destinasi Pariwisata (2017) yang dikeluarkan oleh Center for Tourism Destination Study (CTDS) Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

 

Model Sistem Kepariwisataan

Sistem Kepariwisataan
Sumber: Hanbook Pengantar Pengelolaan Destinasi Pariwisata (2017)

Model Leiper tersebut pada intinya menjelaskan bahwa system pariwisata merupakan suatu sistem uang terbuka yang terdiri dari tiga komponen utama yang didalamnya terdapat beberapa unsur yang saling terkait: pertama adalah komponen manusia dengan unsur pengunjung, kedua adalah komponen industry yang terdiri dari unsur organisasi dan industri, dan ketiga adalah komponen spasial atau geografis yang terdiri dari unsur wilayah penghasil pelaku wisata, tempat atau rute transit dan tempat tujuan wisata. Kelima elemen tersebut dipengaruhi oleh lingkungan eksternal, seperti hukum, ekonomi, lingkungan, politik, teknologi, dan sosial.

Wilayah penghasil pelaku wisata yang biasa disebut dengan TGA (Tourist Generating Area), yaitu wilayah dimana para pelaku wisata berada. Terminologi tourist disini menurut saya belum tepat dalam wilayah ini, karena pelaku wisata menurut saya tidak hanya tourist (wisatawan) tetapi ada yang disebut dengan excursionist (pelancong). Sehingga menurut saya lebih tepat dinamakan dengan wilayah penghasil pengunjung atau Visitor Generating Area (VGA), karena terdapat perbedaan antara wisatawan dan pelancong.  Sementara perbedaannya adalah, kalau wisatawan merupakan tipe pengunjung yang membutuhkan akomodasi karena biasanya bermalam atau melakukan perjalanan > 24 jam, dan pelancong merupakan tipe pengunjung yang tidak bermalam atau sering disebut dengan day tripper karena perjalanannya biasanya kurang dari 24 jam. VGA merupakan wilayah penghasil pengunjung yang memiliki permintaan (demand) akan kegiatan pariwisata. Di wilayah ini sudah terdapat jasa pariwisata dan perjalanan (travel & tourism services) yang bertindak sebagai penyedia jasa kepada pelaku wisata untuk membantu melaksanakan kegiatan pariwisatanya.

Tourist Receiving Area (TRA) atau lebih tepatnya disebut sebagai wilayah penerima pengunjung (Visitor Receiving Area/VRA) merupakan tempat tujuan wisata atau biasa disebut dengan destinasi pariwisata, dimana tempat tersebut merupakan kegiatan wisata dilakukan oleh pelaku wisata/pengunjung. Batas VRA dapat dianggap sebagai kawasan perjalanan dari daerah pengunjung melakukan aktivitas pariwisata yang mencakup tempat-tempat yang biasanya didatangi oleh pengunjung. Beberapa ahli mengemukakan bahwa akomodasi atau tempat tempat wisatawan bermalam merupakan pusat dari VRA. Di wilayah ini terdapat daya tarik wisata, berbagai sarana penunjang kegiatan wisata dan prasarana yang disediakan oleh masyarakat, swasta atau pemerintah.

Transit Route Region merupakan rute antara yang memiliki batasan sebagai tempat dimana pengunjung telah meninggalkan daerah asal tetapi belum mencapai tempat tujuan wisata atau biasa disebut sebagai area transit. Ini merupakan zona antara sebelum aktivitas wisata utama terjadi, dalam hal ini terdapat beberapa tempat/daerah yang memilih untuk berperan sebagai daerah transit menuju destinasi pariwisata.

Tourism Industries merupakan keseluruhan usaha yang langsung terlibat dalam menyediakan barang atau jasa untuk memfasilitasi kegiatan pengunjung saat berada diluar dari tempat asalnya. Sementara itu external environment yang terdiri dari faktor ekonomi, sosial, politik, hukum, teknologi dan lingkungan merupakan faktor eksternal makro yang mempengaruhi keberlangsungan semua komponen dari sistem kepariwisataan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Wallahu A’lam Bishawab.

Referensi:

Morrison, Alastair M., E. Pramita Marsongko dan Dicky Arsyul Salam. (2017). Hanbook Pengantar Pengelolaan Destinasi Pariwisata. Bandung: Center for Tourism Destination Studies (CTDS).

Morrison, Alastair M., Nurdin Hidayah dan Girda Safitri. (2017). Hanbook Pemasaran Destinasi Pariwisata. Bandung: Center for Tourism Destination Studies (CTDS).

2 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: