Dalam berdialektika sehari-hari di tempat kerja, banyak dosen yang berpendapat jika “penelitian uji pengaruh atau yang ada hipotesisnya, berarti itu riset dasar”, atau sebaliknya, jika “penelitian yang turun ke lapangan, gandeng mitra industri, atau bersifat proyek otomatis riset terapan.” Apakah pendapat tersebut sudah tepat dalam menjelaskan perbedaan riset dasar dan riset terapan?
Menurut saya cara berpikir seperti itu keliru dari akarnya. Ada cara membedakan riset dasar dan riset terapan yang jauh lebih mendasar: bukan dari sudut pandang metodenya (itu hal teknis), melainkan dari filsafat ilmu yang melandasinya (ontologi, epistemologi, dan aksiologi). Jika dipahami secara mendalam dari ketiganya, mungkin akan mereset frame of reference yang selama ini jadi pegangan, soalnya riset dasar dan riset terapan itu sebenarnya “kembar identik”, karena yaaa sama-sama riset. Bedanya cuma satu, so…mari kita kupas tas-tas.
Apa Itu Riset Dasar dan Riset Terapan?
Mari mulai dari definisi paling otoritatif yang tersedia. Menurut Frascati Manual, rujukan standar internasional dari OECD yang dipakai hampir semua negara untuk mengklasifikasikan aktivitas research & development (R&D):
Riset dasar adalah kerja eksperimental atau teoretis yang dilakukan terutama untuk memperoleh pengetahuan baru tentang fondasi suatu fenomena, “without any particular application or use in view“, alias tanpa tujuan aplikasi tertentu di depan mata.
Riset terapan adalah investigasi orisinal untuk memperoleh pengetahuan baru yang diarahkan secara khusus pada tujuan atau kebutuhan praktis tertentu (OECD, 2015).
Coba baca ulang dua definisi itu pelan-pelan. Tidak ada satu kata pun yang menyinggung soal “kuantitatif vs kualitatif”, “laboratorium vs lapangan”, atau “proyek vs akademis”. Definisi itu murni soal tujuan (purpose), bukan soal teknis cara mengumpulkan dan mengolah data.
Ini persis kesalahpahaman yang bikin banyak dosen di Indonesia salah pilih skema hibah penelitian. Dalam Buku Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Skema Penelitian Dasar mencakup beberapa subskema, mulai dari penelitian dosen pemula sampai Penelitian Fundamental, sementara Skema Penelitian Terapan justru dibedakan dari “targeted output-nya”: luaran berbentuk model, atau luaran berbentuk prototipe (Duniadosen, 2025). Sekali lagi, pembedanya adalah luaran dan tujuan, bukan rumit-tidaknya metode atau pengolahan data yang dipakai.
Kenapa Bukan Soal Metode? Ini Gunanya Filsafat Ilmu
Kalau bukan metode, lalu apa? Jawabannya ada di filsafat ilmu — tepatnya tiga elemen yang menyusun apa yang disebut paradigma penelitian: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Saunders, Lewis, dan Thornhill, dalam buku metodologi penelitian yang jadi rujukan wajib mahasiswa bisnis dan manajemen di banyak kampus dunia, mendefinisikan filsafat penelitian sebagai:
Sistem keyakinan dan asumsi yang memandu bagaimana pengetahuan dikembangkan, mencakup asumsi epistemologis, ontologis, dan aksiologis yang mendasari metodologi serta desain penelitian (Saunders, Lewis, & Thornhill, 2019).
Riset yang dipublikasikan di The Qualitative Report oleh Pretorius (2024) juga menegaskan bahwa memahami ketiga elemen paradigma ini krusial untuk merancang penelitian yang koheren secara filosofis, bukan sekadar administratif.
Ringkasnya begini:
Ontologi → menjawab “apa hakikat realitas yang di kaji?”
Epistemologi → menjawab “bagaimana bisa tahu itu benar (kebenaran yang teruji), dan seketat apa standarnya (kriteria ilmiah)?”
Aksiologi → menjawab “untuk apa riset ini berguna, dan seperti apa nilainya?”
Ketiga pertanyaan itu berlaku untuk semua riset, dasar maupun terapan. Tapi begitu kita telusuri satu per satu, ternyata cuma satu dari ketiganya yang benar-benar jadi titik pisah. Dua lainnya? Nyaris identik.
Ontologi: Berpijak di Realitas yang Sama
Ontologi bicara soal hakikat realitas, apa yang sesungguhnya sedang dikaji. Di titik ini, riset dasar dan riset terapan biasanya berpijak di atas objek material dan objek formal yang persis sama.
Keduanya beroperasi di atas asumsi realitas yang serupa: entah realitas objektif yang bisa diukur (positivisme), atau realitas yang dibentuk secara sosial lewat persepsi dan makna (konstruktivisme). Keduanya sama-sama memandang fenomena alam maupun fenomena sosial sebagai sesuatu yang nyata dan bisa diteliti, bukan khayalan atau opini semata.
Dengan kata lain, peneliti riset dasar dan peneliti riset terapan yang mengkaji topik yang sama, katakanlah perilaku wisatawan digital, sebetulnya sedang menatap “dunia” yang persis sama. Yang berbeda bukan apa yang mereka lihat, melainkan untuk apa mereka melihatnya — dan itu soal aksiologi lagi.
Epistemologi: “Saudara Kembar” dalam Standar Pembuktian
Epistemologi bicara soal bagaimana kita memperoleh pengetahuan dan standar kesahihannya. Di sinilah letak fakta yang paling sering diabaikan orang: secara epistemologis, riset dasar dan riset terapan itu betul-betul bersaudara kembar. Mengapa kembar? ya karena kedua-duanya adalah riset (bukan non-riset), sehingga kedua-duanya harus memiliki standar (cut-off) kriteria ilmiah yang sama.
Keduanya dituntut rigoritas yang sama persis. Riset terapan bukan berarti hanya sekedar mengaplikasikan teori saja tanpa menguji kebenarannya, keduanya sama-sama membutuhkan standar atau kriteria ilmiah berikut:
- Kerangka pemikiran yang logis dan rasional;
- Metode pengumpulan data yang valid dan reliabel;
- Proses analisis yang sistematis, baik kuantitatif, kualitatif maupun campuran;
- Dapat difalsifikasi (dapat dibuktikan salah) dan atau dapat diverifikasi (dapat dibuktikan benar).
Ini sekaligus meluruskan pandangan yang menyatakan bahwa studi-studi dengan output rencana seperti bikin renstra, rencana induk (master plan), program, business plan dll, itu termasuk riset terapan. Ini juga sama kelirunya. Karena pada hakikatnya rencana itu tidak bisa diverifikasi dan atau difalsifikasi, bagaimana bisa dibuktikan benar atau salah kan baru rencana, kebenarannya hanya bisa dibuktikan di masa depan saat rencananya diimplementasikan, sementara verifikasi dan falsifikasi itu hanya bisa dilakukan untuk masa lampau, kecuali kita punya mesin waktu yang bisa melakukan proses tersebut di masa depan, hehehe.
Aksiologi: Di sinilah Perbedaan Riset Dasar dan Riset Terapan
Aksiologi bicara soal nilai (value), tujuan (purpose), dan untuk apa sebuah ilmu digunakan. Dalam konteks pendidikan pariwisata dan hospitality, aksiologi bahkan didudukkan sebagai salah satu dari tiga pilar filosofis yang wajib dipahami peneliti sebelum merancang studinya, berdampingan dengan ontologi dan epistemologi (Edelheim, 2014). Di sinilah, akhirnya, riset dasar dan riset terapan benar-benar berpisah jalan:
Riset Dasar: digerakkan oleh rasa ingin tahu intelektual (curiosity-driven). Tujuannya memperluas batas pengetahuan — menemukan atau menguji teori — tanpa harus memikirkan apakah temuannya bisa dipakai besok pagi. Nilai tertingginya: kebenaran universal atau kontekstual dan orisinalitas teori.
Contoh riset dasar: pada saat Sir Arthur Stanley Eddington (tahun 1919) membuktikan teori relativitas umumnya Einstein, secara epistimologi ini adalah riset yang memiliki standar ilmiah yang rigor, tetapi pada saat itu tidak memiliki nilai guna secara praktis, tidak ada masalah nyata yang terselesaikan, hanya bersandar terhadap keingintahuan saja.
Riset Terapan: digerakkan oleh masalah nyata (problem-driven). Tujuannya instrumental: memakai ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah spesifik, merumuskan kebijakan, atau menciptakan inovasi. Nilai tertingginya: kegunaan praktis (utility) dan dampak solutif.
Contoh riset terapan: seorang peneliti mengembangkan model pengelolaan destinasi berbasis digital untuk mengurangi antrean wisatawan di kawasan wisata. Penelitian dilakukan melalui observasi, eksperimen lapangan, dan evaluasi kinerja sistem (pengujian sistem). Secara epistemologi, penelitian tetap memenuhi standar ilmiah yang rigor karena melalui proses pengujian/verifikasi. Namun orientasi utamanya bukan memperluas teori pengelolaan destinasi, melainkan menghasilkan solusi yang dapat langsung diterapkan oleh pengelola untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan efisiensi operasional
Menariknya, sistem pendanaan riset di Indonesia sebetulnya sudah “mengamini” logika aksiologis ini, walau tidak selalu menyebutnya secara eksplisit. Contohnya skema di BIMA membedakan luaran berdasarkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT): Skema Penelitian Dasar menyasar luaran di rentang TKT 1–3 (penemuan prinsip dasar hingga pembuktian konsep), sementara Skema Penelitian Terapan menyasar TKT 4–6 (validasi komponen hingga demonstrasi prototipe di lingkungan relevan) (Duniadosen, 2026. Rentang TKT itu, kalau ditelusuri akarnya, sebenarnya cuma cara teknokratis untuk mengukur satu hal: seberapa dekat sebuah riset dengan penerapan nyata. Itu tadi, aksiologi.
Ilustrasi Praktik: Algorithmic Trust dan Desa Wisata Digital
Mari kita turun ke contoh yang lebih konkret lagi. Dalam ranah pemasaran pariwisata dan adopsi teknologi, ada dua topik yang makin sering beririsan sejak wisatawan mulai mengandalkan AI untuk merencanakan perjalanan. Ingat data yang pernah saya bahas di artikel “Reputasi Digital Destinasi Pariwisata” : 54% wisatawan global kini menggunakan AI dalam tahap perencanaan dan pemesanan perjalanan, dan 93% di antaranya percaya AI mampu memberi informasi yang akurat.
Di balik statistik itu ada satu mekanisme psikologis yang belakangan jadi trend penelitian (saya juga sedang meneliti ini): algorithmic trust, kepercayaan pengguna terhadap rekomendasi yang dihasilkan mesin.
Kalau sebuah penelitian menelusuri secara teoretis bagaimana mekanisme “algorithmic trust” ini terbentuk di benak pengguna ketika berinteraksi dengan generative engine (ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan semacamnya), tanpa tendensi mengaplikasikannya ke destinasi tertentu, ini adalah riset dasar. Tujuannya murni membangun atau menguji teori.
Tapi kalau kerangka teori “algorithmic trust” itu kemudian dipakai untuk membangun dan menguji efektivitas sebuah sistem informasi wisata berbasis web, dengan tujuan spesifik meningkatkan intensitas kunjungan ke sebuah desa wisata tertentu, ini adalah riset terapan.
Perhatikan baik-baik: realitas manusia dan mesinnya (ontologi) sama persis. Cara mengukur dan mengambil data survei atau eksperimennya (epistemologi) juga sama-sama bertujuan memverifikasi dan atau memfalsifikasi. Yang beda hanya muaranya — satu untuk memperkaya literatur akademik tentang bagaimana manusia mempercayai algoritma, satu lagi untuk memajukan ekonomi desa wisata secara nyata. Itu, sekali lagi, bedanya hanya di aksiologi.
Plot Twist: Ada “Kuadran Ketiga” ala Pasteur
Sampai di sini mungkin Anda membayangkan dunia riset terbagi rapi jadi dua kotak: dasar di kiri, terapan di kanan. Nyatanya tidak sesederhana itu, dan inilah bagian yang jarang dibahas di ruang kelas metodologi penelitian.
Ilmuwan politik Donald Stokes, dalam buku klasiknya “Pasteur’s Quadrant: Basic Science and Technological Innovation”, membantah dikotomi kaku antara riset dasar dan terapan. Ia mengusulkan dua sumbu yang berdiri sendiri-sendiri, bukan satu spektrum lurus: sumbu pertama soal seberapa dalam riset mengejar pemahaman fundamental, sumbu kedua soal seberapa besar riset itu mempertimbangkan kegunaan praktis (Stokes, 1997).
Dari dua sumbu itu lahir kuadran ketiga yang ia sebut “Kuadran Pasteur”, meniru kerja Louis Pasteur yang mengejar pemahaman mendalam tentang mikrobiologi namun sekaligus terus terdorong oleh kebutuhan praktis dunia nyata, mulai dari fermentasi hingga vaksinasi. Riset semacam ini disebut “use-inspired basic research”: riset yang aksiologinya “dua kaki” — tetap “curiosity-driven” untuk membangun teori fundamental, tapi sadar betul teori itu kelak dibutuhkan untuk memecahkan masalah nyata.
Kabar baiknya bagi peneliti pariwisata dan pemasaran digital: banyak riset di ranah adopsi teknologi dan perilaku wisatawan justru berpotensi masuk kuadran ini. Membangun teori “algorithmic trust” yang solid, sembari sadar bahwa teori itu kelak dibutuhkan industri destinasi, adalah wujud paling elegan dari dua “kembaran” tadi bekerja sama, bukan saling meniadakan.
Kesimpulan
Riset dasar dan riset terapan sering dianggap dua dunia yang terpisah: satu untuk “kaum menara gading”, satu lagi untuk “yang mau kerja nyata”. Setelah menelusurinya lewat tiga lensa filsafat ilmu, gambarannya jauh lebih menarik: keduanya berpijak di atas realitas yang sama (ontologi) dan dituntut standar pembuktian yang sama ketatnya (epistemologi). Satu-satunya yang benar-benar memisahkan keduanya adalah aksiologi, untuk apa dan untuk siapa riset itu pada akhirnya dipersembahkan.
Memahami ini bukan sekadar latihan filosofis. Bagi dosen dan peneliti di Indonesia, ini adalah kompas praktis: memilih skema pendanaan yang tepat, merumuskan tujuan penelitian yang jujur pada diri sendiri, dan pada akhirnya membangun portofolio riset yang punya cerita koheren, bukan sekadar tumpukan judul yang tidak nyambung satu sama lain.
Jadi, dalam merancang proposal penelitian, jangan lagi bertanya “metode saya sudah cukup rumit belum untuk disebut riset dasar?” Tanyakan yang lebih tepat: “riset ini saya persembahkan untuk memperluas cakrawala ilmu, atau untuk menyelesaikan masalah yang ada di depan mata saya sekarang?” Jawaban atas pertanyaan itulah aksiologi dalam riset. Dan aksiologi Anda itulah yang sebenarnya menentukan riset Anda melangkah ke arah mana.
Oke, sampai sini dulu pembahasan kita kali ini. Selamat meneliti dan jangan lupa berdampak. Wassalam.
Referensi
Duniadosen. (2025, 28 November). Hibah Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat 2026.
Edelheim, J. R. (2014). Ontological, epistemological and axiological issues. In D. Dredge, D. Airey, & M. J. Gross (Eds.), The Routledge Handbook of Tourism and Hospitality Education. Routledge.
Pretorius, L. (2024). Demystifying research paradigms: Navigating ontology, epistemology, and axiology in research. The Qualitative Report, 29(10), 2698–2715.
Saunders, M., Lewis, P., & Thornhill, A. (2019). Research Methods for Business Students (8th ed.). Pearson Education.
Stokes, D. E. (1997). Pasteur’s Quadrant: Basic Science and Technological Innovation. Brookings Institution Press




